Fashion FashionRangkuman praktis dan ulasan ringan untuk keseharian.
general

Fashion Terbaru: Tren Vintage dan Thrift yang Kembali Naik Daun

Observasi tren fashion terbaru di Indonesia: dari viralnya gaya vintage di media sosial hingga kebiasaan thrifting yang makin digandrungi anak muda.

22 Apr 2026 · 2 menit baca · oleh Jonathan Saputra
Fashion Terbaru: Tren Vintage dan Thrift yang Kembali Naik Daun

Beberapa pekan lalu, saya iseng buka TikTok dan langsung disuguhi rentetan video outfit check bertema old money aesthetic. Yang menarik, bukan hanya konten kreator di Jakarta yang rame bikinnya, tapi juga anak-anak muda di Pulauyapen mulai ikut eksperimen dengan gaya serupa. Dari sini saya sadar bahwa tren fashion terbaru di Indonesia sebenarnya nggak melulu soal merek mahal atau koleksi musim semi. Lebih dari itu, tren sekarang lahir dari komunitas online, dari cara orang nata ulang lemari lamanya, hingga dari keberanian coba padu padan yang tak biasa.

Kebangkitan Gaya Vintage dan Thrift

Fenomena yang paling mencolok adalah kembalinya minat terhadap pakaian lawas. Dulu thrifting mungkin dianggap cara irit, tapi sekarang jadi ajang buru barang unik yang nggak bisa ditemukan di mal. Di Pulauyapen, beberapa teman saya rela nyisihin waktu sore buat dateng ke lapak-lapak thrift yang mucul di pinggir kota. Mereka nyari kemeja flanel merek luar negeri, jaket denim dengan cutting tahun 90-an, atau gaun bermotif geometris. Semua itu kemudian dipadu dengan aksesori modern kayak sneakers putih atau tas anyaman.

Tren ini diperkuat sama banjirnya konten di media sosial. Akun-akun fashion lokal sering bagi tips mix and match biar baju thrift keliatan kekinian. Misalnya, celana high-waist dari era 80-an bisa dipasangin dengan kaos oblong polos dan blazer oversized. Hasilnya, tampilan vintage tapi tetep relevan sama selera masa kini. Saya sendiri pernah beli jaket kulit bekas dari pasar loak seharga lima puluh ribu rupiah, dan setelah dikasih perawatan dikit, jaket itu jadi item favorit yang sering dipake ke acara santai.

Yang lebih menarik lagi, tren ini juga dorong kesadaran akan fashion berkelanjutan. Alih-alih beli baju baru tiap bulan, banyak anak muda mulai milih untuk memperbaikii atau mendaur ulang pakaian. Mereka ikut gerakan slow fashion yang menekankan kualitas dan nilai cerita di balik setiap helai kain. Di komunitas daring, saya sering lihat unggahan tentang cara memperbaiki sobekan kecil di denim atau ganti kancing baju yang ilang. Hal kecil kaya gitu sebenernya berdampak besar pada lingkungan, dan itu patut diapresiasi.

Tren vintage dan thrift bukan cuma soal pakaian, tapi juga soal identitas. Lewat pakaian, seseorang bisa nunjukin sisi kreatif dan kepeduliannya terhadap isu global. Di Pulauyapen, saya lihat perubahan kecil: anak-anak muda mulai lebih pede pake barang bekas yang mereka sulap jadi gaya sendiri. Nggak peduli apakah itu branded atau bukan, yang penting cerita di balik pakaian itu hadir dalam keseharian mereka. Dan menurut saya, itulah esensi fashion terbaru yang sesungguhnya.

Tag: #fashion #tren #gaya hidup