Fashion Pria di Pulauyapen: Antara Thrifting dan Tren Oversized

Beberapa minggu lalu saya mampir ke kafe kecil di dekat pelabuhan Pulauyapen. Di luar dugaan, hampir semua pengunjung laki-laki memakai kemeja flanel longgar, celana cargo sobek, dan sepatu sneakers putih agak kusam. Sekilas mereka seperti saling pinjam lemari—tapi ternyata itu memang tren yang lagi naik. Saya jadi mikir, sebenarnya apa yang membuat gaya berpakaian pria di Indonesia berubah begitu cepat dalam tiga tahun terakhir? Dulu kita biasa lihat pria pakai kemeja batik atau polo shirt rapi, sekarang lebih banyak yang main di streetwear santai dengan siluet oversize.
Pengaruh Media Sosial terhadap Gaya Berpakaian Pria Indonesia
Media sosial jelas jadi katalis utama. Di Instagram dan TikTok, konten outfit of the day (OOTD) pria makin ramai, dari akun lokal sampai luar negeri. Banyak anak muda di Pulauyapen mulai meniru gaya streetwear Jepang atau Korea, seperti wide-leg pants, layering kaos oblong dengan flanel, serta sneakers model retro. Yang menarik, tren ini tidak cuma soal pakaian baru. Saya lihat thrifting—atau belanja baju bekas impor—juga ikut meroket. Di pasar loak dekat terminal, anak-anak SMA cari kemeja vintage bermerek besar dengan harga murah. Mereka bangga kalau dapat barang unik yang tidak dipakai orang lain. Fenomena ini mirip dengan yang terjadi di kota besar seperti Jakarta atau Bandung, tapi di sini adaptasinya terasa lebih organik karena keterbatasan akses mall mewah.
Bahkan di acara kumpul komunitas motor atau gathering anak skateboard, pakaian menjadi penanda identitas. Jaket denim, topi bucket, dan celana chino longgar jadi seragam tak resmi. Padahal dulunya mereka lebih suka jaket kulit dan celana jeans ketat. Perubahan ini tidak lepas dari algoritma media sosial yang terus menyajikan konten gaya hidup casual. Selain itu, merek lokal Indonesia juga mulai banyak bikin koleksi streetwear dengan harga terjangkau, sehingga anak muda di Pulauyapen bisa ikut tren tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam. Saya sendiri sering lihat mereka pakai hoodie bertuliskan nama brand lokal sambil jalan-jalan sore Beberapa pertimbangan tambahan di fashion.
Tapi bukan berarti tren ini tanpa kritik. Beberapa teman saya di sini bilang kadang terlalu seragam—semua pakai oversized hitam, sepatu yang itu-itu saja. Namun, buat saya justru ini bagian dari siklus mode. Layaknya musik atau film, fashion pria sedang dalam masa transisi dari formal ke ekspresif. Tidak ada salahnya mencoba hal baru, selama kita tetap nyaman dan percaya diri. Menurut sebuah artikel di Wikipedia Indonesia tentang mode, mode adalah cermin perubahan sosial. Di Pulauyapen, saya rasa ini juga cermin bagaimana generasi muda kita semakin terbuka pada pengaruh global, tapi tetap mempertahankan kreativitas lokal lewat thrifting dan pilihan brand rumahan.
Pada akhirnya, fashion pria bukan sekadar soal kain dan jahitan. Ini soal bagaimana kita menceritakan siapa diri kita lewat apa yang kita kenakan. Dari balutan flanel bekas hingga sneakers yang sudah menemani ratusan kilometer, setiap helai punya cerita. Saya malah penasaran, kira-kira dua tahun lagi tren apa yang bakal muncul? Ambil contoh di Pulauyapen, mungkin kita akan lihat lebih banyak pria bereksperimen dengan warna—siapa tahu merah marun atau hijau army menjadi favorit baru. Yang jelas, selama media sosial masih berputar, lemari pria Indonesia tidak akan pernah berhenti berganti.

Bahan bacaan: sumber resmi