Fashion FashionRangkuman praktis dan ulasan ringan untuk keseharian.
general

Fashion Pria di Pulauyapen: Antara Thrifting dan Tren Oversized

Observasi perubahan gaya busana pria di Indonesia, dari pengaruh media sosial hingga fenomena thrifting. Ditulis dari Pulauyapen oleh Jonathan Saputra.

10 Apr 2026 · 3 menit baca · oleh Jonathan Saputra
Fashion Pria di Pulauyapen: Antara Thrifting dan Tren Oversized

Pas jalan-jalan ke kafe dekat pelabuhan Pulauyapen beberapa waktu lalu, saya langsung ngeh ada yang beda. Mayoritas cowok di situ pake kemeja flanel kebesaran, celana cargo agak sobek, plus sneakers putih yang udah nggak kinclong. Kaya ada kesepakatan gitu, padahal emang lagi tren. Dulu kan laki-laki sini lebih sering pake batik atau polo shirt rapi, sekarang malah lebih milih gaya santai ala streetwear oversize.

Gaya Pria Indonesia di Era Medsos

Nggak bisa dipungkiri, Instagram sama TikTok bikin perubahan gaya berpakaian makin cepat. Konten OOTD cowok sekarang banyak banget, dari influencer lokal sampe luar negeri. Anak muda Pulauyapen pun mulai ngikutin gaya streetwear ala Jepang/Korea, kayak celana lebar, layering kaos oblong sama flanel, atau sneakers model jadul. Yang menarik, tren ini nggak cuma soal beli baju baru. Thrifting alias nyari baju bekas impor juga makin populer. Di pasar loak deket terminal, anak SMA rela bolak-balik nyari kemeja vintage branded dengan harga miring. Mereka bangga kalo dapet item unik yang jarang dipake orang lain. Fenomena ini sebenernya udah lama ada di kota-kota besar, tapi di Pulauyapen perkembangannya lebih alami karena minimnya akses ke mall-mall fancy.

Di komunitas motor atau skateboard sini, pakaian udah jadi identitas. Jaket denim, topi bucket, sama celana chino longgar kayak seragam wajib. Padahal dulu lebih sering liat mereka pake jaket kulit sama jeans ketat. Perubahan ini jelas dipengaruhi medsos yang terus nongolin konten gaya hidup casual. Untungnya sekarang banyak brand lokal yang ngeluarin koleksi streetwear dengan harga terjangkau, jadi anak muda sini bisa ikut tren tanpa perlu nguras dompet. Sering banget liat mereka pake hoodie brand lokal sambil nongkrong sore.

Tapi nggak semua orang setuju sama tren ini. Beberapa temen ngomong gaya oversize malah bikin penampilan jadi seragam semua - item hitam, sepatu model itu-itu aja. Menurut gue sih ini wajar aja sebagai bagian dari siklus fashion. Kaya musik atau film, gaya berpakaian pria lagi dalam masa transisi dari formal ke lebih ekspresif. Selama nyaman dan pede, kenapa nggak dicoba? Di artikel Wikipedia tentang mode, disebutin kalo fashion itu cerminan perubahan sosial. Di Pulauyapen, tren ini nunjukin generasi muda makin terbuka sama pengaruh global, tapi tetep kreatif lewat thrifting dan dukungan ke brand lokal.

Sebenernya fashion pria nggak cuma soal baju doang. Ini cara kita ceritain siapa diri kita lewat penampilan. Dari flanel bekas sampe sneakers yang udah setia nemenin jalan-jalan, tiap item punya ceritanya sendiri. Gue malah penasaran, kira-kira dua tahun lagi bakal muncul tren apa ya? Mungkin di Pulauyapen bakal lebih banyak cowok yang berani pake warna-warna berani kayak merah marun atau hijau army. Yang pasti, selama medsos masih eksis, gaya berpakaian pria Indonesia bakal terus berubah dan berkembang.

Gaya fashion pria dengan kemeja flanel oversized dan celana cargo di Pulauyapen

Tag: #fashion pria #gaya hidup #tren media sosial #thrifting #streetwear